Crypto Hype

psikologi FOMO sebagai replikator ide kekayaan instan

Crypto Hype
I

Pernahkah kita memandangi layar ponsel sambil merenung, merasa menjadi manusia paling tertinggal di dunia? Fenomena ini biasanya terjadi saat kita membuka grup obrolan atau media sosial. Tiba-tiba, teman yang dulu sering berutang rokok kini memamerkan tangkapan layar portofolio hijau royo-royo. Ia baru saja membeli koin kripto bergambar anjing lucu. Dalam semalam, uang jajannya berubah menjadi setara harga mobil baru. Di momen seperti ini, rasanya dada kita sesak. Ada perpaduan antara rasa iri, bingung, dan penyesalan yang sangat dalam. Kita mulai berhitung, andai saja bulan lalu tabungan tidak dipakai untuk memperbaiki atap bocor, mungkin sekarang kita sudah memesan tiket liburan ke Eropa. Tenang saja, teman-teman. Perasaan cemas semacam ini sangat manusiawi. Kita tidak sendirian merasakannya. Namun, sebelum kita buru-buru memecahkan celengan untuk membeli koin digital misterius, mari kita duduk sejenak. Ada sebuah pertunjukan teater psikologis yang sangat rumit sedang terjadi tepat di dalam kepala kita.

II

Untuk memahami mengapa kita begitu tergila-gila dengan janji kekayaan instan, kita harus mundur cukup jauh. Jauh sebelum ada layar sentuh dan blockchain, otak kita dirancang untuk satu tujuan utama: bertahan hidup di alam liar. Bayangkan leluhur kita di padang sabana ribuan tahun lalu. Jika anggota suku lain tiba-tiba berlari kencang, leluhur kita tidak akan berhenti untuk menganalisis keadaan. Mereka akan langsung ikut berlari. Kenapa? Karena mereka yang tidak ikut berlari biasanya berujung menjadi makan siang singa. Insting purba inilah yang kita kenal sekarang sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Di era modern ini, singa sungguhan itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, ancaman terburuk menurut otak prasejarah kita adalah tertinggal dari kelompok sosial. Ketika melihat sekelompok orang tiba-tiba berpesta karena cuan kripto, alarm bahaya di otak kita berbunyi nyaring. Otak segera membanjiri aliran darah kita dengan hormon stres. Kita merasa terancam bukan karena nyawa kita dalam bahaya, tapi karena status finansial kita terancam tertinggal. Pertanyaannya, mengapa janji kekayaan dari dunia kripto ini bisa menyebar begitu agresif, seolah melampaui logika sehat kita?

III

Mari kita berkenalan dengan sebuah konsep menarik dari biologi evolusioner bernama meme. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh ahli biologi Richard Dawkins pada tahun 1976. Tolong lupakan sejenak meme gambar kucing lucu di internet. Dalam sains, meme adalah unit gagasan atau budaya yang mereplikasi dirinya sendiri dari satu otak ke otak lain. Layaknya virus yang membutuhkan sel inang biologis untuk berkembang biak, sebuah meme membutuhkan pikiran manusia agar bisa hidup. Dan coba tebak? Gagasan tentang "kaya mendadak tanpa keringat" adalah salah satu meme paling menular sepanjang sejarah peradaban manusia. Di abad ke-17, meme ini berbentuk demam bunga tulip di Belanda. Di awal tahun 2000-an, ia menjelma menjadi dot-com bubble. Kini, virus gagasan itu memakai baju baru bernama crypto hype. Kripto memiliki kombinasi yang terlalu sempurna untuk menjadi virus yang ganas. Ada jargon teknologi yang terdengar canggih namun sulit dipahami seperti decentralization dan smart contracts. Lalu ada elemen komunitas yang luar biasa fanatik. Ditambah lagi dengan fluktuasi harga yang sangat liar. Fluktuasi ini bertindak persis seperti mesin slot di kasino. Ia memberikan suntikan dopamin acak ke saraf kita, menciptakan rasa penasaran yang berujung pada kecanduan tingkat tinggi. Lalu, apakah ini berarti semua hal tentang kripto itu omong kosong belaka? Tunggu dulu. Rahasia terbesarnya justru tidak terletak pada kode pemrogramannya.

IV

Inilah fakta mengejutkan yang hampir tidak pernah dibicarakan di grup-grup investasi online. Dalam pusaran crypto hype, produk utamanya seringkali bukanlah koin digital itu sendiri. Produk utamanya adalah FOMO yang ada di kepala kita. Mari kita cerna kenyataan ini bersama-sama. Sebagian besar token kripto yang tiba-tiba meledak di pasaran sama sekali tidak memiliki nilai intrinsik. Nilainya murni didorong oleh seberapa banyak orang baru yang percaya bahwa harganya akan terus naik. Agar skema ini bisa terus berjalan, gagasan kekayaan instan harus terus direplikasi. Mereka yang sudah membeli di awal memiliki insentif psikologis dan finansial yang besar untuk menyebarkan "virus" ini kepada kita. Mereka memamerkan keuntungan fantastis, membakar emosi kita, dan menekan tombol panik evolusioner di amigdala otak kita. Ketika kita akhirnya menyerah pada FOMO dan menekan tombol buy di harga puncak, rasa cemas kita memang menguap sesaat. Kita merasa aman karena sudah "masuk ke dalam kelompok". Namun tepat di titik itulah, kita baru saja resmi menjadi sel inang yang baru. Kita mensubsidi kekayaan mereka yang masuk lebih awal. Sementara itu, kita sendiri kini menggantungkan nasib pada orang-orang malang lain yang akan datang setelah kita. Pada fase hype gila-gilaan, kita sebenarnya tidak sedang berinvestasi pada teknologi masa depan, teman-teman. Kita sedang bertaruh nyawa dalam sebuah eksperimen psikologi massal.

V

Saya tidak sedang menghakimi bahwa seluruh ekosistem kripto adalah hal yang jahat. Sama sekali tidak. Tentu ada inovasi brilian di baliknya yang pelan-pelan sedang memperbaiki sistem keuangan dunia yang usang. Namun, sangat penting bagi kita untuk memisahkan antara teknologi yang memang revolusioner dengan ilusi kekayaan yang manipulatif. Lain kali, ketika kita melihat seorang teman memamerkan keuntungan miliaran dari koin berlogo hewan purba, mari tarik napas panjang. Sadari bahwa detak jantung kita yang berdebar kencang saat itu hanyalah sisa-sisa insting leluhur kita yang takut dimangsa singa. Kita tidak sedang berada di padang sabana. Kita punya kendali penuh atas akal sehat dan dompet kita. Tidak ikut-ikutan tren yang tidak kita pahami bukanlah sebuah kekalahan finansial. Itu adalah sebuah bentuk kemerdekaan berpikir. Kekayaan sejati dan berkelanjutan tidak pernah dibangun dari kepanikan kolektif. Ia dibangun dari pemahaman mendalam, kesabaran, dan kemampuan kita menjaga kewarasan di tengah dunia yang sedang berteriak panik. Jadi, mari kita seduh kopi kita santai-santai, tersenyum melihat hiruk-pikuk lini masa, dan jalani hari dengan pikiran yang jernih. Percayalah, kita tidak tertinggal apa-apa.